Catatan dari Jakarta: Mengasah "Nakhoda" di BBPPMPV Bispar
| Foto bersama bersama Bu Eti dan Bu Mayra |
Alhamdulillah, syukur yang tak terhingga saya panjatkan ke hadirat Allah SWT. Pada tanggal 8 hingga 14 Februari 2026, saya mendapatkan kesempatan berharga untuk meningkatkan kompetensi dalam kegiatan Pelatihan Peningkatan Kompetensi Pengawas dan Kepala Sekolah yang diselenggarakan oleh BBPPMPV Bisnis dan Pariwisata (Bispar). Perjalanan sepekan di Jakarta ini bukan sekadar perjalanan dinas biasa, melainkan sebuah perjalanan transformasi mental bagi saya sebagai pemimpin di SMKS Muhammadiyah Pangkalan Bun.
Pelajaran Berharga dari Sang Idola: Pak Wikan Sakarinto
Salah satu momen yang paling saya nantikan—dan ternyata menjadi bagian paling menantang—adalah saat menyerap ilmu langsung dari narasumber idola saya, Pak Wikan Sakarinto. Beliau adalah sosok yang konsisten menyuarakan "pernikahan massal" antara dunia pendidikan vokasi dengan industri.
Paparan beliau tentang konsep Teaching Factory (TeFa) benar-benar membuka cakrawala berpikir saya. Pak Wikan menekankan bahwa TeFa bukan hanya sekadar gedung bengkel atau laboratorium yang megah dengan alat-alat baru. TeFa adalah tentang "Mindset". Beliau menantang kami para Kepala Sekolah untuk berani bertransformasi menjadi seorang CEO (Chief Executive Officer).
Sebagai CEO, tugas saya bukan lagi sekadar mengurusi administrasi surat-menyurat atau presensi guru, melainkan bagaimana membangun ekosistem bisnis di dalam sekolah. Pak Wikan menegaskan bahwa lulusan SMK harus memiliki soft skills dan karakter yang kuat, bukan sekadar nilai di atas kertas. Kurikulum sekolah harus benar-benar "dikawinkan" dengan kebutuhan nyata di industri agar lulusan kita tidak menjadi penonton di rumah sendiri.
Melihat Nyata di SMKN 1 Jakarta
Konsep filosofis dari Pak Wikan tersebut menemukan bentuk nyatanya saat kami melakukan kunjungan studi ke SMKN 1 Jakarta. Sebagai salah satu sekolah percontohan TeFa di Indonesia, SMKN 1 Jakarta menunjukkan bagaimana budaya industri diintegrasikan ke dalam napas pendidikan sehari-hari.
Di sana, saya melihat siswa tidak lagi hanya belajar teori, tetapi mereka bekerja menghasilkan produk dan jasa dengan standar mutu yang diakui pasar. Kedisiplinan, manajemen waktu, dan orientasi pada kepuasan pelanggan terpancar dari setiap sudut aktivitas siswa. Ini adalah bukti nyata bahwa jika dikelola dengan visi CEO yang tepat, SMK mampu menjadi mesin penggerak ekonomi yang luar biasa.
Oleh-oleh untuk Pangkalan Bun
Saya kembali ke Pangkalan Bun dengan membawa "api" semangat yang menyala. Tantangan ke depan tentu tidak mudah. Mengubah budaya sekolah yang sudah menahun menjadi budaya industri memerlukan kesabaran dan kerja keras kolektif. Namun, bekal dari BBPPMPV Bispar, inspirasi dari Pak Wikan, dan praktik baik dari SMKN 1 Jakarta telah memberikan saya kompas yang jelas.
Saya bermimpi, dan akan berjuang, agar SMKS Muhammadiyah Pangkalan Bun bukan hanya sekadar tempat belajar, tapi menjadi pusat keunggulan yang melahirkan profesional muda yang kompeten, berkarakter, dan siap memenangkan persaingan di dunia kerja.
Bismillah, saatnya SMK bermutu, untuk Indonesia maju!
Terima kasih yang tak terhingga untuk Bu Eti dan Bu Mayra yang telah mendampingi kami dalam momen yang berharga ini.

